Minggu, 24 Oktober 2021

GELAR KARYA CALON KEPALA SEKOLAH TAHUN 2021

 

Kunjungan dari Ibu Ajizah LPMP Jabar, Ibu Kabid & Bapak Kasi dari BKPSDM Subang

Proses untuk menjadi kepala sekolah di tahun 2021 merupakan masa transisi ke masa rekrutmen calon kepala sekolah melalui jalur program Guru Penggerak. tahun 2021 ini wacananya adalah tahun terakhir proses diklat calon kepala sekolah digunakan dalam merekrut calon kepala sekolah. Di tahun 2022 akan dimulai proses pengangkatan kepala sekolah diambil dari para lulusan program guru penggerak, hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas kepemimpinan di sekolah. 

Pada proses pembentukan calon kepala sekolah di tahun 2021 ini setelah peserta lulus tes substantif maka dilanjutkan ke Diklat calon kepala sekolah atau yang dikenal dengan istilah On The Job Training yang dilaksanakan oleh LP2KS dan bekerjasama dengan LPMP Jawa Barat. 

Pada pelaksanaan diklat ini para calon kepala sekolah harus melewati beebrapa tahapan diklat, setidaknya 4 tahapan harus dilalui mulai dari On The Job Training (OJT) 1 berisi pengenalan tehnis pembekalan dan pendahuluan kegiatan pembekalan yang dilaksanakan secara daring. kemudian lanjut ke kegiatan In Servive Training 1 (IST 1) yang dilaksanakan secara luring, pada kegiatan IST 1 ini peserta dibelkali oleh berbagai konsepsi umum dan kepemimpinan yang harus dikuasai oleh calon kepala sekolah dan materi kepemimpinan calon kepala sekolah, serta mempersiapkan berbagai instrumen yang akan jadi bekal pada kegiatan berikutnya. Kegiatan dilanjutkan ke On The Job Training 2 (OJT) 2, pada OJT 2 ini para peserta diklat melaksanakan aksi nyata di sekolah magang 1 dan magang 2. ada 3 kegiatan pada OJT 2 yaitu melaksanakan Rencana Proyek Kepemimpinan (RPK), dengan menggali kondisi sekolah magang 1 kemudian calon kepala sekolah menawarkan solusi dan melaksanakannya dalam 2 siklus yang nanti akan dievaluasi dan direfleksi. 

Kegiatan kedua yaitu Kajian Manajerial, kegiatan ini adalah kegiatna menganalissi rapot mutu sekolah di sekolah magang 1 dan magang 2, kemudian mengobservasi dan diskusi dengan semua warga sekolah. pada kegiatan ini calon kepala sekolah menggali indformasi sebanyak-banyaknya dan menggali rapot mutu sekolah. dari hasil menggali tersebut harus mampu memotret kondisi real sekolah, kekuatan dan kelemahan sekolah, yang kemudian berdasarkan setiap indikator rapot mutu sekolah para calon kepala sekolah harus memberikna rekomendasi perbaikan.  

Kegiatan terakhir adalah Peningkatan Kompetensi (PK), pada kegiatan ini para calon kepala sekolah yang sebelumnya sudah mengikuti tes AKPK atau tes kompetensi dasar kepala sekolah, dari tes AKPK ini setiap calon kepala sekolah dapat mengetahui kompetensi apa yang paling lemah dari dirinya, dan dari kelemahan tersebutlah para calon kepala sekolah memperbaikinya dengan magang di sekolah magang 2 bersama mentor 2. jadi pada kegiatan PK ini para calon kepala sekolah belajar banyak tentang kompetensi kepala sekolah di sekolah magang 2 bersama mentor 2. 

Selesai melaksanakan OJT 2 para calon kepala sekolah akan memasuki tahap terakhir dari proses diklat kepala sekolah yaitu kegiatan In Service Training 2 (IST2). pada kegiatan IST 2 ini ada dua kegiatan utama yaitu gelar karya dan presentasi laporan hasil kegaitan OJT 2. pada kegiatan gelar karya ini para calon kepala sekolah harus memaerkan atau mempertunjukan semua aktivitas di kegiatan OJT 2 yang dilaksanakan selama 2 bulan di lapangan. Pada IST 2 ini dilaksanakan pula presentasi satu persatu para calon kepala sekolah  di hdapan para peserta yang lain dan dinilai oleh pengajar diklat dari LPMP. para peserta presentasi bisa saling bertanya dan menggali informasi dari temannya yang presentasi

Kelas A peserta Diklat Cakep 33 Subang

Itulah secara singkat gambaran proses kegiatan diklat calon kepala sekolah yang kami lalui di calon kepala sekolah kabupaten Subang yang tergabung pada kelompok Subang 33. 

Mudah-mudahan diklat ini benar benar mampu meningkatkan kompetensi para calon kepala sekolah dan mampu mengaktualisasikannya kelak di setiap sekolah yang dipimpinnya.

Kelas B peserta Diklat Cakep 33 Subang


Jumat, 11 Juni 2021

CORONA VS PHUBBING VIRUS

Penulis: Dadan Hermawan, M.Pd.

Kondisi penyebaran virus corona yang tak juga kunjung reda menjadi salah satu penyebab proses Pendidikan hingga saat ini masih menggunakan model PJJ. Ini mungkin salah satu pilihan yang dianggap paling rasional untuk dilaksanakan. Namun ada hal baru yang juga harus diwaspadai bahayanya, karena tidak kalah mengerikan dari bahaya terjangkiti virus Corona, yakni semakin dekatnya anak-anak bahkan lengket dengan sebuah benda pintar yang Bernama gawai, handphone, gadget atau apapun itu istilahnya.

Pembelajaran Jarak jauh secara umum masih dimaknai pembelajaran yan gmenggunakna fasilitas teknologi komunikasi, dan yang paling popular adalah gawai. Dalam kondisi normal, keberadaan gawai sudah banyak menimbulkan permasalahan baru bagi anak-anak bahkan orang dewasa, padahal intensitas anak-anak dengan gawai masih bisa dibilang ada keterbatasan. Hari ini gawai sudah menjadi menu sarapan dan makanan wajib serta menu penutup pembelajaran bahkan teman hidup anak-anak. Sebelum Corona datang saja sudah banyak korban kecanduan gawai akibat kelalian orang tua dalam memberikan hak kepada anak untuk menggunakan gawai. Banyak orang tua yang salah kaprah dan tidak bijak dalam memberikan akses gawai kepada anak-anaknya, mereka tidak membatasi waktu dan kontennya, tidak pula mengawasi apa yang dilakukan anak pada gawainya dan pengaruh apa yang muncul pada anaknya karena semakin sulit dipisahkan dari gawainya. Tidak sedikit pula orang tua yang menjadikan gawai sebagai pola asuh dan alat untuk menemani anaknya main agar tidak mengganggu aktivitasnya.

Sekilas orang tua pun banyak yang menganggap mereka dianggap sudah menunjukan rasa sayangnya kepada anaknya jika sudah memberikan gawai atau hanphone terbaru sesuai dengan keinginan anaknya. Padahal jika orang tua tidak smart dalam memberikan dan mengawasi anaknya dalam menggunakan smartphone tersebut, sesungguhnya mereka sedang menyiapkan kuburan bagi anaknya sendiri. Anak-anak yang sudah sulit dipisahkan dari gawai, waktunya nyaris sudah habis Bersama gawai sesungguhnya sedang perlahan-lahan dikubur hidup-hidup berbagai kecerdasan dan kompetensinya.

Benar jika teknologi itu adalah berkah bagi kita di jaman ini, namun teknologi itupun bagaikan pedang bermata dua bagi yang tidak pandai dan bijak dalam menggunakannya. Butuh dibekali dengan keterampilan dan kecerdasan baik dalam mengoperasikannya, memahami regulasi penggunaannya, dan kecerdasan social emosional sebelum menggunakannya.

Ada satu virus yang mengintai anak-anak kita yang kian dekat dengan gawai, ialah PHUBBING VIRUS. Virus yang menurut saya sebagai seorang pendidik, tidak kalah mengerikan dan bahayanya dari virus Corona jika tidak segera diatasi dan diantisipasinya.

Apa itu PHUBBING ?

Ayah bunda, Phubbung adalah sebuah istilah tindakan acuh tak acuh seseorang di dalam sebuah lingkungan karena lebih fokus pada gawai dibanding membangun sebuah percakapan dengan orang lain. Banyaknay fasilitas dan aplikasi yang menawarkan nyaris semua hal pada gawai menjadikan siapapun penggunanya yang tidak memiliki kendali diri akan merasa betah berlama-lamaan dengan gawai. Mungkin bagi Sebagian orang diangap hal biasa karena mereka banyak yang tidak paham apa yang sedang terjadi pada kondisi psikis anak Ketika berlama-lama dengan gawainya. Phubbing mengakibatkan anak-anak kehilangan kepekaan social, melemahnya spirit dan motivasi belajar di sekolah, bahkan semakin kehilangan keperdulian terhadap dirinya sendiri karena yang ada dalam pikirannya hanya tentang apa dan bagaimana hal-hal baru dalam gawainya.

Terkadang orang tua pun salah persepsi tentang bahaya gawai, banyak orang tua yang mengira jika bahaya gawai itu akibat konten yang ada di dalamnya, padahal bahaya gawai yang pertama adalah intensitas kebersamaan dan kedekatan anak dengan bendanya setelah itu baru kontennya. Anak yang sudah mulai sulit lepas dari gawai apalagi sampai marah saat gawainya diambil sudah menunjukan gejala kecanduan dan dapat dipastikan akhirnya akan terkena Phubbing virus.

Perilaku Phubbing merupakan perilaku negatif yang menjadi benih-benih sikap intoleran, radikalisme, bahkan hingga terorisme. MASIHKAH KITA HANYA SIBUK MEMIKIRKAN BAHAYA CORONA TANPA MEMIKIRKAN PULA MENCEGAH TERJADINYA PENDEMI PHUBBING BAGI ANAK-ANAK KITA YANG SUDAH NYATA ADANYA.

Jumat, 03 Juli 2020

GRAND LAUNCHING BUKU ANTOLOGY FABEL KEPEMIMPINAN

15 Juli 2020 jadi hari yang special bagi siswa siwi kelas VI SDN Pelita Karya, selain karena hari itu mereka akan menerima pengumuman kelulusannya mereka juga mengadakan kegiatan grand launching buku ber-ISBN hasil jerih payah mereka semua selama jadi siswa kelas VI.

Buku Antology kumpulan fabel bertemakan kepemimpinan isinya original hasil karya seluruh anak kelas VI yang dikemas dalam cerita fabel, tema kepemimpinan diambil sesuai dengan tema pada tema 7 pada buku kurikulum 2013 yang temanya Kepemimpinan.

Hadir dalam acara grand launching ini seluruh siswa beserta orang tuanya dan di hadiri oleh para guru serta kepala sekolah SDN Pelita Karya Ara Sukara S., S.Pd.,MM.Pd yang sekaligus memberi sambutan dan apresiasi pada acara tersebut.

Acara sederhana namun hidmat ini dilaksanakan di tengah-tengah suasan new normal penyebaran covid-19, sehingga pelaksanaanya menerapkan protolkol covid-19. Apresiasi dari orang tua pun menyambut positif, mereka bangga karena anak-anaknya di usia bekia sudah memiliki buku karya sendiri.

Senin, 23 Maret 2020

SELAMAT JALAN ANAKKU AMEL


INNALILLAHI WAINNAILAIHIROZIUN
Selamat jalan anakku ananda Ghendis Shakira (Maura Amelia)
satu tahun lebih ia berjuang melawan rasa sakitnya, foto ini kenang-kenangan terakhir satu tahun lebih yang lalu, 3 Januari 2019 saat pertama kali kembali masuk sekolah setelah beberapa lama tidak bisa masuk karena harus menjalani perawatan di awal-awal penyakitnya terdeteksi, pagi-pagi ia menghampiri mengajak bersalaman dan tak biasanya tiba-tiba minta berfoto selfy bersama di kursi depan ruang guru. Saya masih ingat saat ia jadi dirigen paduan suara di upacara senin pagi, karena badannya yang masih sangat pendek ia harus memakai kursi agar kelihatan.
Malam ini Alloh mengentikan perjuangannya melawan rasa sakit itu.... anakku, kami saksi jika kamu anak yang baik..
Allohummagfirlaha warhamha, waafihi wafuanha..

Senin, 02 Maret 2020

HARUSKAH GURU SELALU SALAH ?



Masih harus guru yang disalahkan atas semua tragedi pendidikan ?, mungkin iya ada guru yang lalai dan bersalah, namun mari kita lihat siapa penyumbang kesalahan yang paling besar dalam pendidikan? saya mau tanya,adakah sekolah/guru yang sengaja mengajarkan kriminalitas ? Adakah guru yang sengaja mengajarkan berbuat asusila dan amoral pada anak didiknya ? Sengaja menyusun kurikulum keburukan dan yang sejenisnya ?

Lantas lupakah kalian jika anak akan belajar kapan saja, dimana saja, dengan siapa saja ? Selama mata mereka terbuka, telinga mereka mendengar, kulit mereka bisa merasa, selama mereka membuka mata mereka akan melewati proses pembelajaran. Sementara anak-anak itu hanya 30 % dari wakrunya bersama guru-gurunya di sekolah, 70 % bersama orang tua dan lingkungannya.

Sekarang saya tanya lagi, siapa yang memberi mereka handphone dan akses internet ? Siapa yang membiarkan mereka nonton TV dan tidak memilihkan jenis tontonannya di rumah? Siapa yang membiarkan mereka pulang pergi ke warnet/penyedia games on line dll? Siapa yang rajin mempertontonkan perkelahian ? Pertengkaran ? Kebohongan ? Kekerasan ? Tampilan sexualitas ? Siapa yang rajin memperdengarkan omongan kotor dan kasar ? Siapa yang mempertontonkan merokok bebas dan lain-lain ? SIAPA ? GURU KAH ? anda bisa menjawab sendiri...

Ingat...! Dalam pendidikan ada yang namanya tri matra pendidikan, pendidikan anak berlangsung di 3 tempat, 1. Di sekolah yang bertugas membekali anak dengan pengetahuan, 2. Di rumah yang bertugas membentuk karakter anak, dan 3. Di lingkungannya yang bertugas membentuk watak anak.

Hari ini, guru di paksa melahirkan generasi unggul dan berkualitas sendirian, mereka harus menanggung tugas semua pihak sementara pihak-pihak lain yang memiliki tugas yang sama melakukan hal sebaliknya yakni merusak anak-anak itu sendiri.

Tugas mendidik ada di pundak semua orang yang hidupnya ada di lingkungan anak-anak. Tugas orang tua, tugas masyarakat, tugas lsm, tugas parpol dan rugas semua orang, kecuali mereka yang hidup jauh dari kehidupan anak-anak.
Hari ini hampir semua orang menebar racun pada kehidupan anak-anak, televisi merusak dengan tayangannya, para pekerja yang jualan tontonan giat membuat tayangan-tayangan yang tidak mendidik, media sosial dan link-link internet memberikan akses yang amat sangat mudah pada trilyunan keburukan, bahkan para pejabat banyak sekali mempertontonkan prilaku yang memalukan. LANTAS SETELAH RACUN ITU DITABURKAN SECARA MASAL PADA KEHIDUPAN ANAK-ANAK KEMUDIAN GURU DENGAN SEGALA KETERBATASAN FASILITAS PENDIDIKAN DIPAKSA UNTUK MENGOBATI DAN MEMPERBAIKI SENDIRIAN.

Kalian sehat ?
Kalian waras ?

JIKA IYA KALIAN MERASA PERDULI PADA PENDIDIKAN DAN PERADABAN NEGERI INI... Mari sadar bersama dan mainkan peran anda masing-masing dengan benar..! Orang tua perankan peran anda dengan baik di hadapan anak-anak anda !, masyarakat tunjukan kata-kata dan prilaku yang baik di hadapan anak-anak siapapun yang ada di sekitar anda !, para publik figur tunjukan dan pertontonkan sikap dan tontonan mendidik bagi generasi negeri ini!, para pemilik starsiun tv dan penyedia tayangan on line berhentilah hanya mengejar keuntungan dengan menayangkan konten-konten murahan san ganti dengan hal yang mendidik !, para penguasa dan pejabat berikan tauladan dalam kata kata dan tindakan berhentilah bersandiwara hanya demi kepentingan politik.

Guru dan sekolah yang jumlahnya tak sebanding dengan jumlah siswa yang haris dididik tak akan pernah mampu melahirkan pendidikan berkualitas jika tidak ada peran sinergis dari semua pihak. Saatnya pemerintah berani membuat regulais lintas instansi, lintas kehidupan dan lintas birokrasi demi pendidikan, dan terakhir... HENTIKAN POLITISASI PENDIDIKAN...! lahirkan konsep pendidikan berbasis kebutuhan bukan kepentingan.

Dadan Hermawan, M.Pd
Guru SDN Pelita Karya Subang.