Selasa, 19 Mei 2026

Kompetisi dan Anak-Anak Luka Kejuaraan

 

 


Setelah sebuah ajang kompetisi diakhiri, anak-anak yang menjadi pesertanya kadang dianggap selesai urusan mereka setelah juara kompetisinya diumumkan, hati-hati, banyak orang dewasa yang berpikir terlalu sederhana seperti itu saat mereka melibatkan anak-anak dalam sebuah kompetisi. Padahal kompetisi sesungguhnya hanya membahagiakan sedikit anak dan justru meninggalkan luka bagi jauh lebih banyak anak-anak yang mengikutinya. Padahla pendidikan harus dirasakan manfaat dan dampak positifnya untuk seluruh anak, bukan hanya untuk beberapa orang anak saja.

Ketika seorang anak dilibakan dalam sebuah kompetisi oleh orang dewasa, maka ditahap sebelum kompetisi mereka mengikuti proses panjang persiapan, berhari-hari bahkan berbulan-bulan mereka latihan, dicekoki oleh doktrin bahwa dirinya hebat, dia bisa dan mampu jadi jaura agar mereka termotiviasi dan memiliki semangat yang luar biasa. Sehingga anak-anak yang asalnya rendah diri, takut, malu menjadi memiliki motiviasi,  semangat dan kepercayaan diri untuk mengikuti kompetisi. Hingga akhirnya datanglah pada waktu kompetisi dilaksanakan, anak-anak itu dengan kepercayaan dirinya bertarung, mereka datang dengan perasaan jika dirinya memang mampu dan dapat menaklukan semuanya, setidaknya setiap anak yang bertarung itu memiliki harapan yang sama bahwa mereka sangat ingin menjadi juara.

Namun kompetisi hanya menyediakan podium juara bagi paling banyak 3 atau 6 orang saja, maka sisanya ada puluhan atau bahkan ratusan anak-anak yang harus siap untuk kecewa bahkan mungkin diantara mereka banyak yang terluka, karena sesungguhnya dalam sebuah kejuaraan semua yang mengikutinya punya harapan dan keinginan untuk jadi juara, sementara potensi mereka kalah jauh lebih besar daripadan potensi kemenangan, namun sayangnya manajemen menang kadang sudah disiapkan jauh-jauh hari dan kadang manajemen kekalahan itu kurang mendapat perhatian, akhirnya hanya berhenti pada nasihat “sabar” dan kalimat “segala sesuatu selalu ada waktunya”. Padahal pembentukan karakter terbaik dari sebuah kompetisi adalah membentuk anak untuk siap menghadapi kekalahan dengan kesadaran dan pemahaman makna hidup, bahwa dalam kehidupan nyata jauh lebih sering berhadapan dengan kekalahan daripada kemenangan, lebih sering bertemu dengan tangisan daripada canda tawa dan kebahagiaan.

Anak-anak yang dilibatkan dalam sebuah ajang kompetisi seyogyanya jangan dilepaskan begitu saja pendampingannya oleh orang dewasa baik guru maupun orang tuanya, setelah mereka selesai mengikuti kejuaraan, apakah menjadi juara atau sebaliknya mereka kalah. Namun justru pendampingan terbaik dan intens itu harus disipakan dan didesain sebaik mungkin saat mereka kalah, dan tak cukup hanya dengan nasihat sabar dan takdir, apalagi jika anak dipengaruhi emosinya oleh pembentukan opini korban kecurangan dan manipulasi penilaian, itu akan sangat berbahaya bagi pembentukan karakter anak. Sebagian orang dewasa juga ikut terbawa suasan kecewa sehingga alih-alih menguatkan mental anak justru malah ikut memamerkan luka di hadapan anak-anak tersebut.

Ingat, berhari-hari bahkan berbulan-bulan anak-anak kita dibentuk untuk optimis dan percaya diri saat mereka latihan, maka setelah seorang anak ternyata menemukan realita bahwa mereka kalah, maka peran orang dewasalah untuk membantu anak-anak ini memaknai kompetisi sebagai ajang melatih jiwa, rasa, raga dan persepsi hidup mereka. Hal ini jadi sangat penting dilakukan justru setelah kompetisi berakhir, karena menerima jadi juara itu lebih mudah daripada menerima kekalahan, dan itu bukan hal yang mudah bahkan jika orang deswasa sekalipun yang mengalaminya.

Tidak sedikit orang dewasa yang menganggap anak akan mudah begitu saja memahami kekalahan, menganggap mereka dapat memaafkan dirinya sesederhana berkata sabar dan tak apa-apa, padahal setelah kekalahan itu diderita seorang anak, maka mereka berada dalam fase tekanan yang luar biasa dan gejolak rasa yang sangat dahsyat.

Anak yang kalah tak sedikit merasakan jika dirinya memang lemah, dirinya tidak sehebat yang dikatakan gurunya seperti saat mereka latihan, dirinya tidak Istimewa, bahkan tak sedikit yang akhirnya mereka merasa tak berguna, sehingga tidak jarang anak-anak itu akhirnya hanya dapat menangis, akhirnya banyak yang merasa malu bertemu temannya dan atau guru dan orang tuanya. Jika hal ini dibiarkan maka anak-anak itu terluka karena kejuaraan.

Anak yang hebat dan kuat saat mereka kalah dan tampak tak menangis harus lahir dari buah pembinaan dan bimbingan dari orang dewasa dalam memaknai hakikat kompetisi dan kehidupan, sehingga anak-anak itu kuat karena memang memiliki pemahaman dan kesadaran tentang makna kejuaraan, bukan hanya karena mereka sudah terlalu seirng terluka karena terlalu sering kalah, sehingga mereka tak menangis bukan karena kuat namun hanya karena sudah terlalu sering luka dan sudah bosan hingga lupa cara menangis lagi, dan jika ini terjadi maka kejuaraan bukan membentuk karakter tangguh pada anak, namun hanya melahirkan anak-anak terluka yang tangguh karena lupa rasa sakit saja.

Ketika seorang anak selesai mengikuti kompetisi perlu langkah-langkah terstruktur dan serius yang dilakukan oleh orang dewasa agar anak-anak itu tidak terluka, bukan sekedar menguntai kata-kat amutiara dan bijak tentang kekalahan, namun harus memberikan treatmen real yang membuat mereka tetap merasa dihargai dan tak larut dalam penyesalan, hingga menanamkan pemahaman hidup bahwa kompetisi ini hanya miniatur kehidupan yang kelak akan mereka temukan dalam kehidupan nyata, ada luka ada tawa dan berbagai suasana yang akan menyisakan bahagia dan kecewa. Buat aktivitas-aktivitas yang mampu menjaga kepercayaan diri mereka yang dulu ditanamkan saat latihan, jaga keyakinan mereka bahwa mereka tetap hebat dan luar biasa, jaga perasaan mereka agar mereka tetap merasa berharga. Tanamkan dalam jiwa dan pikiran mereka bahwa kompetisi dan usaha tidak berakhir pada sebuah piala atau sekedar piagam penghargaan, ada harga yang jauh lebih besar dari semua benda itu, adalah pelajaran kehidupan, berupa cara pandang pikiran, pemahaman kehidupan dan lahirnya rasa sabar dari kesadaran bukan sekedar rangkaian nasihat yang terasa hambar. Dan itu butuh waktu yang lama untuk dibersamai, bahkan jangan kalah lama dari saat mereka menerima doktrin saat latihan. Hati-hati, kompetisi jangan hanya jadi ajang memuaskan hasrat orang dewasa, jangan hanya jadi sarana pembuktian untuk menunjukan jika pelatih dan pembimbingnya keren, bahwa gurunya hebat dan orang tuanya luar biasa, namun harus jadi sarana mengasah jiwa anak, melembutkan rasa anak dan menajamkan pikiran anak. Jangan hukum anak dengan piala dan piagam, kuatkan mereka dengan proses kekalahan. 

Oleh : Dadan Hermawan, M.Pd. 


Selasa, 11 Juni 2024

BIMTEK TNI AD MENGAJAR DI DAERAH 3T

Dalam rangka mengoptimalkan layanan pendidikan di daerah terluar, tertinggal, dan terdepan, Ditjen GTK bekerjasama dengan TNI AD melaksanakan Bimbingan Teknis TNI AD Mengajar yang akan ditugaskan di wilayah perbatasan Papua.

Bimtek ini dilaksanakan pada 3 s.d 6 Juni 2024 di Batalyon Infanteri 502/Ujwala Yudha dengan harapan prajurit yang ditugaskan memiliki bekal untuk memberikan layanan pembelajaran kepada murid-murid di wilayah perbatasan Papua ketika dibutuhkan.

#sahabatgurudikdas, mari kita doakan seluruh prajurit TNI AD yang ditugaskan diberikan kelancaran, kesehatan, dan keselamatan dalam mengemban tugas pengamanan dan pengabdian saat berada di daerah penugasan.
#bimtektni
#gurudikdas
https://www.instagram.com/reel/C71PGgRPqsx/?igsh=ZWlvNnJvd2MyYWgz

Senin, 27 Mei 2024

PENDIDIKAN, BISNIS DAN KEPENTINGAN

Dua hal yang seharusnya tak boleh masuk ke ranah proses pendidikan di sekolah, adalah :

1. BISNIS
2. POLITIK PRAKTIS APAPUN RUPANYA

Secara regulasi dua hal ini memang tidak dibenarkan ada di sekolah, namun pada kondisi dan situasi tertentu masih saja terasa auranya baik langsung maupun tidak langsung. Dan jika hal ini terus terjadi maka kita dapat merasakan hadirnya beberapa kondisi yang akhirnya memberikan warna yang kurang elegan pada proses dan dampak pendidikan. 

Ketika industrialisasi pendidikan sekolah terjadi maka pendidikan sudah tak akan lagi jadi milik dan hak seluruh masyarakat Indonesia seperti yang dipesankan undang-undang dasar, kesenjangan pendidikan akan meruncing dan kaum papa hanya bisa pasrah menunggu keajaiban kebijakan penguasa. Akhirnya pendidikan hanya milik mereka yang berharta atau mereka yang terpaksa bekerja extra menyisihkan apa yg ada dan terpaksa mengorbankan yang lainnya, dan pendidikan terbaik sudah bukan lagi jaminan hak seluruh warga negara seperti janji konstitusi. 

Bagi NGO yang memiliki keleluasaan pengelolaan pendidikan, akan sangat rentan dengan urusan finansial dan itu tidak dilarang regulasi, namun tetap ada hal yang harus jadi spirit membangun pendidikan, adalah spirit cinta dan spirit melahirkan generasi terindah. Jauhkan niat membangun sekolah karena melihat besarnya peluang bisnis di sana, namun semua karena cinta pada generasi negeri ini, adapun pada kenyataannya mendatangkan keuntungan biarkan itu hanya bonus dari persembahan cinta dan bukan orientasi utama. 

Ketika politik praktis dan kepentingan masuk ke ranah pendidikan sekolah maka yang terjadi pendidikan dibangun di atas kepentingan bukan di atas kebutuhan, sehingga apa yang disediakan oleh pendidika ln bukan apa yang dibutuhkan bangsa, namun apa yang bisa dimanfaatkan oleh segelintir dan sekelompok orang saja. 

Pendidikan sejatinya harus dibangun di atas cinta, totalitas dan kesungguhan. Politik dan bisnis memang tetap dibutuhkan, namun harusnya hanya digunakan oleh para pemangku kebijakan dan pemiliknya untuk mempermudah lahirnya pendidikan berkualitas yang berorientasi pada kepentingan dan kebutuhan masyarakat. Tidak boleh ada satupun yang menginterfensi pendidikan baik oleh kekuasaan apalagi oleh cuan, biarkan para pakar dan praktisi pendidikan focus memikirkan, merancang, mendesain dan memberikan layanan pendidikan yang independen dan merata, yang lain cukup berada di luar dan satukan hasrat siap memberikan bantuan dan dukunga terbaik untuk pendidikan karena ini infestasi besar bangsa bersama. Para pelaku pendidikan pun harus mengesampingkan hasrat berbisnis, hitung-hitungan untung rugi dan sejenisnya. Focus berikan layanan terbaik, dan focus pada rasa khawatir jika esok lusa dari tangannya tidak terlahir generasi terbaik bagi negerinya. 

Pendidikan dan sekolah yang dibangun di atas laba dan kepentingan perlahan-lahan akan kehilangan esensi dan keberkahan, sehingga pendidikan jadi terlihat mewah dan megah namun tak memberikan dampak signifikan yg masif dan merata pada laku dan karakter serta cara pandang anak-anak didik yang terlahirnya. Atau bisa pula lebih mengerikan dari itu, pendidikan tampak terpuruk dan tak memberikan banyak dampak apa-apa pada masa depan anak-anaknya. Anak berkualitas dan berprestasi akhirnya sebagian besar sudah bukan lagi hasil kreasi sekolah namun hanya kebetulan karena anaknya memiliki bakat istimewa yang diasah di lingkungan lainnya. Sementara anak-anak lainnya walau setiap hari duduk di atas kursi kelas dan membuka buku di atas mejanya tetap saja tak berkembang dan bertumbuh dahsyat bakatnya. Naudzubillah mudah-mudahan semua ini tidak akan pernah terjadi. 

Belum terlambat, jika kita masih yakin dan punya mimpi indoensia emas 2045, mari sama-sama evaluasi dan introfeksi tanpa sibuk mencari yang bisa dipersekusi, saatnya kita bersama-sama memikirkan apa yang bisa kita berikan dari hal terbaik yang bisa kita lakukan untuk pendidikan. Bagi pengambil kebijakan di seluruh tingkatan, berikan rasa tenang dan nyaman bagi para pelaku pendidikan, jamin kelayakan dan kebutuhannya, awasi dan evaluasi ketat kinerja profesionalnya, lindungi profesinya, penuhi kebutuhannya dan jangan terlalu banyak dibebani oleh hal-hal yang bersifat seremonial dan administratif namun buahnya tak terlalu esensial pada kualitas layanan. Penguasa dan pengusaha bahu membahu menyiapkan apa yg mereka punya untuk pendidikan dan jauhkan pikiran dan hasrat lain dari pendidikan. 

Para pelaku pendidikan di lapangan focus pada merancang, mendesain dan melakukan apa yang terbaik bagi sekolahnya. Jauhkan pikiran berbisnis apapun di sekolah, pertanggungjawabkan setiap kepingan rupiah gaji yang didapat dengan menjaga keberkahan dari menunaikan seluruh tugas dengan mengeluarkan keringat terbaiknya. Jauhkan pula ambisi lain selain menunaikan pekerjaan sesuai tupoksi, dan tumbuhkan cinta terdalam bagi anak-anak didik dan profesinya. 

Orang tua dan masyarakat, hadirlah sebagai Mitra pendidikan yang berkualitas dan bukan hanya mengambil peran oposan. Apa yang kita bisa dan berikan se kemampuan kita lakukanlah, karena yang sedang kita rawat dan jaga adalah anak-anak kita bersama, dan sekolah selalu saja memiliki keterbatasan, sementara kita memiliki mimpi yang sama memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak kita dan sinergis serta kolaborasilah solusinya. 

Karena sejatinya pendidikan anak itu lebih banyak terjadi di lingkungan rumah dan masyarakat. Ingat dalam konsep pendidikan, anak-anak kita itu belajar kapan saja dan di mana saja, bukan hanya di sekolah. Sementara waktu hidup mereka 60-80 % ada di rumah dan masyarakat, di sekolah hanya 20-40 %, sehingga peran rumah dalam membentuk anak sangatlah besar. Berhenti menganggap tugas pendidika hanya tugas sekolah, karena sesungguhnya tugas pendidikan adalah tugas orang tua dan sekolah membantu prosesnya,dan kelak di akhirat sebaik apapun sekolah dan guru anak-anak kita, yang akan dicintai pertanghungjawaban soal mendidik anak tetap ayah ibunya. Maka, ayo mulai sekarang berkolaborasilah, sinergislah, kompaklah antara rumah dan sekolah. Karean sebanyak apapun uang kita, pendidikan terbaik dan paripurna hanya akan terlahir jika peran rumah, sekolah dan masyarakat benar-benar terjalin indah. 

Salam pendidikan, salam satu mimpi generasi Indonesia emas... 

Selasa, 07 Mei 2024

PENUTUPAN PROGRAM PPL MAHASISWA UNIVERSITAS MANDIRI DI SDN PELITA KARYA

Selasa, 07 Mei 2024
Di SDN Pelita Karya Jalancagak diadakan seremonial pelepasan program mahasiswa PPL Universitas Mandiri. Sejak awal Februari 2024 ada 4 mahasiswa Universitas Mandiri Subang jurusan PGSD yang melaksanakan kegiatan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di SDN Pelita Karya. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengalaman nyata kepada para mahasiswa calon guru di sekolah-sekolah yang ditunjuk oleh Kampus mereka untuk melaksanakan PPL. Empat orang mahasiswa tersebut adalah ; Desy Noeraeni, Rafika Cahyani, Putri dan Irna Maharani. 
Selama 3 bulan mereka melaksanakan PPL di SDN Pelita Karya dengan mengikuti semua program sekolah, melaksanakan praktik mengajar dan mengikuti beragam peningkatan kompetensi guru. 
Hari ini, 7 Mei 2024 kegiatan PPL Mahasiswa Universitas Mandiri tersebut berakhir. Dihadiri dosen pembimbing Drs. H. Apip Patra kusuma, M.Pd., guru pamong di sekolah Ibu Tuti Surtiasih, S.Pd., dan Siti Nur hasanah, S.Pd., Kepala Sekolah SDN Pelita Karya Dadan Hermawan, M.Pd. serta dihadiri para guru dan mahasiswa PPL di Meeting Room SDN Pelita Karya mengadakan kegiatan penutpan program sekaligus perpisahan dengan mahasiswa PPL. Pagi harinya kegiatan yang sama diadakan bersama para siswa-siswi SDN Pelita Karya. 

Jumat, 03 Mei 2024

LAUNCHING APLIKASI PPDB ON LINE KABUPATEN SUBANG

Jum'at, 3 Mei 2024, bertempat di aula Pemda Kabupaten Subang. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan mengadakan launching Aplikasi Penwrimaan Peserta Didik Baru (PPDB) On Line yang akan digunakan pada penerimaan calon siswa baru tahun ajaran 2024/2025. 

Launching aplikasi PPDB on line ini dihadiri langsung oleh PJ Bupati Subang Dr. Drs. Imran, M. si., M.A.Cd., Asda kabupaten Subang, Ombusdman Provinsi Jawa Barat, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Subang beserta jajarannya, K3S Kabupaten Subang, KPPS Kabupaten Subang, para kepala sekolah SD, SMP se Kabupaten Subang. 

Penggunaan PPDB On line diterapkan untuk memaksimalkan layanan pendidikan di kabupaten Subang, meminimlisir masalah-masalah yang kadang hadir pada proses PPDB, serta untuk memeratakan kualitas sekolah yang ada di Kabupaten Subang, sehingga mempercepat pemeratan kualitas sekolah, dan ini harus diakomodir oleh semua pihak. "Kita harus memiliki komitmen yang sama pada asistem yang digunakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan" Ungkap Ka disdikbud Kabupaten Subang pada sambutannya. 

Pada sambutannya Pj. Bupati Subang menyampaikan bahwa PPDB on line ini diharapkan untuk memeratakan kualitas sekolah, tidak ada lagi praktik yang tidak baik dalam proses PPDB seperti tiba-tiba banyak orang tua asuh dan anak titipan. Namun selain itu untuk meningkatkan kualitas pendidikan pihak sekolah baik guru maupun kepala sekolah harus meningkatkan kualitas dan kompetensi agar semua layanan pendidikan tiap sekolah sama, dan semua sekolah jadi pavorite. Pj. Bupati Subang mempersilahkan masyarakat untuk melaporkan ke saber pungli jika menemukan praktik pungutan pada proses PPDB. "Launching diharap bukan sekedar seremonial namun aplikasi ini benar-benar dapat digunakan dan dimanfaatkan" Lanjut PJ Bupati Subang.