Ketika seorang anak dilibakan dalam
sebuah kompetisi oleh orang dewasa, maka ditahap sebelum kompetisi mereka
mengikuti proses panjang persiapan, berhari-hari bahkan berbulan-bulan mereka latihan,
dicekoki oleh doktrin bahwa dirinya hebat, dia bisa dan mampu jadi jaura agar
mereka termotiviasi dan memiliki semangat yang luar biasa. Sehingga anak-anak
yang asalnya rendah diri, takut, malu menjadi memiliki motiviasi, semangat dan kepercayaan diri untuk mengikuti kompetisi.
Hingga akhirnya datanglah pada waktu kompetisi dilaksanakan, anak-anak itu dengan
kepercayaan dirinya bertarung, mereka datang dengan perasaan jika dirinya
memang mampu dan dapat menaklukan semuanya, setidaknya setiap anak yang
bertarung itu memiliki harapan yang sama bahwa mereka sangat ingin menjadi
juara.
Namun kompetisi hanya menyediakan podium
juara bagi paling banyak 3 atau 6 orang saja, maka sisanya ada puluhan atau
bahkan ratusan anak-anak yang harus siap untuk kecewa bahkan mungkin diantara mereka
banyak yang terluka, karena sesungguhnya dalam sebuah kejuaraan semua yang
mengikutinya punya harapan dan keinginan untuk jadi juara, sementara potensi
mereka kalah jauh lebih besar daripadan potensi kemenangan, namun sayangnya
manajemen menang kadang sudah disiapkan jauh-jauh hari dan kadang manajemen kekalahan
itu kurang mendapat perhatian, akhirnya hanya berhenti pada nasihat “sabar” dan
kalimat “segala sesuatu selalu ada waktunya”. Padahal pembentukan karakter terbaik
dari sebuah kompetisi adalah membentuk anak untuk siap menghadapi kekalahan dengan
kesadaran dan pemahaman makna hidup, bahwa dalam kehidupan nyata jauh lebih
sering berhadapan dengan kekalahan daripada kemenangan, lebih sering bertemu
dengan tangisan daripada canda tawa dan kebahagiaan.
Anak-anak yang dilibatkan dalam
sebuah ajang kompetisi seyogyanya jangan dilepaskan begitu saja pendampingannya
oleh orang dewasa baik guru maupun orang tuanya, setelah mereka selesai mengikuti
kejuaraan, apakah menjadi juara atau sebaliknya mereka kalah. Namun justru
pendampingan terbaik dan intens itu harus disipakan dan didesain sebaik mungkin
saat mereka kalah, dan tak cukup hanya dengan nasihat sabar dan takdir, apalagi
jika anak dipengaruhi emosinya oleh pembentukan opini korban kecurangan dan
manipulasi penilaian, itu akan sangat berbahaya bagi pembentukan karakter anak.
Sebagian orang dewasa juga ikut terbawa suasan kecewa sehingga alih-alih
menguatkan mental anak justru malah ikut memamerkan luka di hadapan anak-anak
tersebut.
Ingat, berhari-hari bahkan berbulan-bulan
anak-anak kita dibentuk untuk optimis dan percaya diri saat mereka latihan,
maka setelah seorang anak ternyata menemukan realita bahwa mereka kalah, maka
peran orang dewasalah untuk membantu anak-anak ini memaknai kompetisi sebagai
ajang melatih jiwa, rasa, raga dan persepsi hidup mereka. Hal ini jadi sangat
penting dilakukan justru setelah kompetisi berakhir, karena menerima jadi juara
itu lebih mudah daripada menerima kekalahan, dan itu bukan hal yang mudah
bahkan jika orang deswasa sekalipun yang mengalaminya.
Tidak sedikit orang dewasa yang
menganggap anak akan mudah begitu saja memahami kekalahan, menganggap mereka
dapat memaafkan dirinya sesederhana berkata sabar dan tak apa-apa, padahal
setelah kekalahan itu diderita seorang anak, maka mereka berada dalam fase tekanan
yang luar biasa dan gejolak rasa yang sangat dahsyat.
Anak yang kalah tak sedikit merasakan
jika dirinya memang lemah, dirinya tidak sehebat yang dikatakan gurunya seperti
saat mereka latihan, dirinya tidak Istimewa, bahkan tak sedikit yang akhirnya
mereka merasa tak berguna, sehingga tidak jarang anak-anak itu akhirnya hanya
dapat menangis, akhirnya banyak yang merasa malu bertemu temannya dan atau guru
dan orang tuanya. Jika hal ini dibiarkan maka anak-anak itu terluka karena
kejuaraan.
Anak yang hebat dan kuat saat mereka
kalah dan tampak tak menangis harus lahir dari buah pembinaan dan bimbingan
dari orang dewasa dalam memaknai hakikat kompetisi dan kehidupan, sehingga anak-anak
itu kuat karena memang memiliki pemahaman dan kesadaran tentang makna
kejuaraan, bukan hanya karena mereka sudah terlalu seirng terluka karena terlalu
sering kalah, sehingga mereka tak menangis bukan karena kuat namun hanya karena
sudah terlalu sering luka dan sudah bosan hingga lupa cara menangis lagi, dan
jika ini terjadi maka kejuaraan bukan membentuk karakter tangguh pada anak,
namun hanya melahirkan anak-anak terluka yang tangguh karena lupa rasa sakit
saja.
Ketika seorang anak selesai mengikuti
kompetisi perlu langkah-langkah terstruktur dan serius yang dilakukan oleh
orang dewasa agar anak-anak itu tidak terluka, bukan sekedar menguntai kata-kat amutiara dan bijak tentang kekalahan, namun harus memberikan treatmen real yang membuat mereka tetap merasa dihargai dan tak larut dalam penyesalan, hingga menanamkan pemahaman hidup
bahwa kompetisi ini hanya miniatur kehidupan yang kelak akan mereka temukan
dalam kehidupan nyata, ada luka ada tawa dan berbagai suasana yang akan
menyisakan bahagia dan kecewa. Buat aktivitas-aktivitas yang mampu menjaga
kepercayaan diri mereka yang dulu ditanamkan saat latihan, jaga keyakinan
mereka bahwa mereka tetap hebat dan luar biasa, jaga perasaan mereka agar
mereka tetap merasa berharga. Tanamkan dalam jiwa dan pikiran mereka bahwa
kompetisi dan usaha tidak berakhir pada sebuah piala atau sekedar piagam
penghargaan, ada harga yang jauh lebih besar dari semua benda itu, adalah pelajaran kehidupan, berupa cara pandang pikiran, pemahaman kehidupan dan lahirnya rasa
sabar dari kesadaran bukan sekedar rangkaian nasihat yang terasa hambar. Dan itu
butuh waktu yang lama untuk dibersamai, bahkan jangan kalah lama dari saat
mereka menerima doktrin saat latihan. Hati-hati, kompetisi jangan hanya jadi ajang memuaskan hasrat orang
dewasa, jangan hanya jadi sarana pembuktian untuk menunjukan jika pelatih dan pembimbingnya
keren, bahwa gurunya hebat dan orang tuanya luar biasa, namun harus jadi sarana
mengasah jiwa anak, melembutkan rasa anak dan menajamkan pikiran anak. Jangan
hukum anak dengan piala dan piagam, kuatkan mereka dengan proses kekalahan.
Oleh : Dadan Hermawan, M.Pd.
