Selasa, 04 Juni 2013

SENJA INI... Ku ajak Kalian Menemui Hati


Sejenak istirahat dari lelahnya susuri amanah kehidupan hari ini.. terlentang di hamparan sisa tikar perjalanan, menjelang ashar rasanya sejenak lagi kita harus bersiap menapaki senja hari, seperti senjanya usia kita ini, tadi pagi semua telah kita lalui walau kadang kita lupa diri dan merasa seperti tak akan pernah mati, hingga hampir setiap langkah kaki tak kita perdulikan lagi walau teramat sering kita hampir terhenti di persinggahan-persinggahan penuh duri hanya karena tampak seperti bunga melati...eummh...apakah magrib nanti kita kan mampu hampiri setelah butiran debu ini hampir memenuhi... dan datang setelah bekal ini memadai ??? walau resah namun kitak tak kan pernah bisa berhenti namun kita bisa menata diri hati dan langkah kaki, masih ada senja sebelum malam hari... masih ada lembayung sebelum langit kelam menyambangi... sisa kisah ini masih tetap bisa kita hiasi bersama taubat tiada henti dan tusiran-tusiran karya indah di cinta illahi. kita patut berbesar hati jika senja ini masih jua di beri kesadaran hati dari kelalaian ini...mudah2an kita akhiri semua ini dalam khusunya hati dan kita berjanji tuk berkumpul di jannah nanti.. yu kita berjanji..




bersanding bersama alam....... memaknai keheningan...

8 Februari 2011 pukul 15:20

AKU,KAMU dan RAMADHAN...


Senja  itu kudapati anggunmu diantara rekahnya bunga ditaman waktu, menenggelamkanku dalam kidung sahdu.
Senja itu kau halus dan lirih menyapaku... "Aby.. ramadhan ini kan segera berlalu, lantas bagaimana dengan tumpukan noda dan lembaran dosa kita ....?"
Perlahan  ku coba menjawab pertanyaanmu itu.."Entahlah umy.... entahlah...!!! rasanya  terlalu banyak luka yang ku torehkan dan terlalu banyak tetesan air mata yang ku tumpahkan.. takutku kalau saja kau pun tak lagi memaafkanku... lantas bagaimana aku hadapan tuhanku...?“  terdiamku di antara tatapan matamu,perlahan kau  pegang kedua tanganku, dan... kau genggam jari jemariku bersama alunan taubatku.. dan jawabmu sahdu .”Aby... jika begitu, apalagi denganku...  sering ku lalai membahagiakanmu... teramat banyak ku melupakan kebaikanmu.. mungkin, sorga itu tak lagi sudi menghampiriku nanti andai saja kau tak bermurah hati tuk mengampuni segala hilafku ini ...”
Kuraih dirimu, kudekap erat  dalam anganku... lirih kubisikan kata penuh iba padamu... “Umi... maafkalah aku... maafkan semua khilaf dan torehan belatiku pada hati saljumu itu, layak, dan kau layak merasakan lembutnya sapaan jannah indah disana...“
Dan kamipun tenggelam dalam bulir-bulir permata pelepas resah didada.. ingin ku mengukir indah istana untukmu di singgasana hatiku.. sungguh kau torehkan kisah indah di senja Ramadhanku, dan kita tetap disana diantara AKU,KAMU dan RAMADHAN...

 pada 27 Agustus 2010 pukul 8:46

MERDEKAAA atau MERDEKAAA....???

Pagi ini kusambangi kain-kain berwarna warni disana sini bertengger diantara pagar-pagar rumah dan pinggiran jalan yang riuh diterpa hembusan angin jalan. Gapura pun berjajar diatas gang-gang tegak bertuliskan kata-kata yang khas tampak gemerlap dan cukup tampak semarak walau tak semerbak cerita tahun '45, tanya saja pada anak-anak kecil yang berseragam bendera pasti mereka dapat segera menerka kalau hari ini hari kemerdekaan.
Hari yang  65 tahun yang lalu benar-benar terasa menjadi hari yang penuh suka cita dan rasa lega di dada karena penderitaan yang beratus tahun tlah mengungkung akhirnya enyah pula, pekik takbir dan teriakan "MERDEKA" hampir selalu menggema dimana –mana karena semua penghuni negeri ini benar-benar merasakan aroma wewangi dan harumnya kemerdekaan. Walau mereka tak sempat untuk berpkir menggelar balapan karung atau lomba panjat pinang namun dada mereka benar-benar lepas mengangkasa seperti burung-burung yang terlepas dari sangkar yang tlah mengurungnya bertahun-tahun lamanya.
Lantas....... apa yang tersisa di dada-dada kita kini ? apa yang ada di rasa-rasa kita sekarang ? masihkah makna MERDEKA itu ada dan singgah pada rasa penduduk-penduduk negeri ini ? di penghuni rumah – rumah di bantaran kali ? dipenjaja makanan di trotoar-trotoar jalanan ? di hari hari anak anak yatim penghias perempatan-perempatan kota ? pada mereka yang setiap hari bertemankan terik mentari dan malam beratapkan kerlip bintang yang slalu saja muram ? pada mereka yang terus berlari mengejar hak hak sebagai anak negeri walau hanya untuk sesuap nasi dan sekeping bunyi gemercing koin koin kecil ? semua terpinggirkan dan tak lagi mengusik hati hati yang hampir tlah mati di kursi kursi pelalai hati. Bagi mereka JANGANKAN MASA DEPAN, UNTUK HARI INI SAJA MEREKA TAK LAGI PUNYA PILIHAN walau hanya untuk sekedar hidup yang wajar.
Sejenak ku terdiam dan kembali termenung pada gumpalan rasa heran nan amat  dalam... maih saja kudapati pemandangan aneh yang tak jua beranjak dari negeri ini.. tampak jelas pada rakyat pas-pasan yang teramat panjang rentangnya dengan rakyat jutawan pembuang harta – harta mubahnya. Amat nyata tampak pada pengapnya bus kota karena sesaknya para penumpang yang bergelayutan sementara disampingnya berlalu tampa malu kendaraan wah yang hanya ditumpangi dua penumpang dengan siulan... atau gemerlap gedung-gedug mewah dengan segala hingar bingarnya diantara gubuk-gubuk kumuh reyot yang berserakan dan selalu dihantui penggusuran... atau para hartawan yang menghabiskan jutaan dolarnya hanya untuk sarapan sementara di belakang mereka bertebaran raga raga fakir yang memunguti recehan kecil hingga menembus malam nan sunyi....
Tanyakan pada mereka... kemerdekaan apa yang tlah menentramkan nafasnya ? kemerdekaan apa yang tlah menenagkan rasanya ? kalau saja untuk selembar kartu identitas anak negeri mereka tak mampu membeli..... salahkah jika kini ku kembali bertanya dimana KEMERDEKAAN anak negeri ini ? yang ku tau kemerdekaan itu baru ada pada dinding dinding tinggi yang tak pernah sunyi namun tak jua didapati oleh banyaknya anak negeri, dan mereka hanya mengeja hari – hari sepi bersama tetesan peluh dan air mata nestapa sembari menanti saat azalnya tiba....
Bukan tak ada Empati penguasa negeri ini namun sayang masih lebih teramat banyak berkeliaran dengan senyuman para pencuri yang tak punya hati... karena mereka mencuri dari tetesan air mata jiwa jiwa nestapa negeri sendiri...
Pedih rasanya hati ini untuk berteriak lantang "MERDEKA".. sakit rasanya rasa ini untuk bersuka cita pada riuhnya kata MERDEKA yang mulai tinggalkan makna – makna jiwa... bukan ku tak tau arti Merdeka namun ku masih mengerti rintihan sunyi di balik mimpi mimpi yang tak lagi kembali pada tetesan-tetesan air mata sepi nan menguliti hati. Dan yang membuat kami masih berdiri hanya karena memiliki makna kemerdekaan hati yang berbeda dari para penggenggam negeri yang kebanyakan tak lagi tau diri hingga mereka yg masih saja tegar bersama mentari walau penuh duri.
Dan kuajak engkau para penghuni negeri yang masih berhati nurani, yang masih berasa dan tak mati rasa karena limpahan dunia... Mari kita Kembali Bebaskan Negeri Ini dari para pencuri harga diri dan nurani... Agar kita Bisa kembali Pekikan Takbir Dan Kata MERDEKA dengan Bangga...
Sengaja tak ku urai semua agar anda dapat berbagi cerita....... dan mereka kembali membuka jiwa bahwa kita masih ada... bahwa kita masih menghuni negeri ercinta ini..
NEGERIKU .... AKU MENCINTAIMU... M E R D E K A.... Allohuakbaar.....................................................

___________________ Suara Hati di bawah Kibaran Merah Putih yang kian sunyi_____________
___________________________Dadan colection 17082010 ___________________________

HENING YANG MENGHUJAM

Dengarlah bisikan hening pagi ini... dari semilir angin yang tak henti menari diantara riuhnya jiwa jiwa yang hilir mudik tiada henti menyusuri trotoar-trotoar takdir diri yang masih panjang terbentang dan terhampar diantara alur alur para pencari kisah indah kehidupan. Semua riuh tak berkesudahan, semua sibuk berjalan dan berlarian mengejar lambaian – lambaian melenakan di kejauhan... bahkan mereka hampir tak sempat tuk bersapaan.
Ada yg berlari mengejar dedaunan kering yang berjatuhan karena dimatanya ia lembar-lembar permata yang kan menyelamatkan dan membahagiakan.....
Ada yg tergesa gesa memburu gubuk bambu yang tampak bak istana permata nan menenangkan....
Ada juga yg tiada henti menanti para putri tak berhati yang datang silih berganti menusuk dan mencacah hati....
Dan semua kini tinggal menyisakan keheningan...... keheningan yang tajam dan menghujam seperti hujaman belati nan mengerikan....
Dan diamlah sejanak... dengarlah bisikan keras para pendzikir alam nan tak pernah jua terdiam... dengarkanlah lolongan alam yang kian tajam membentak jiwa yang jua kian temaram....
Dengarlah dzikir dzikir kenari pagi yang kian melengking menyindir hati hati yang kian mati....
Dengarlah rilih rintihan bunga bunga pagi yang semakin meringkih pada diri diri yang semakin tak memiliki hati.....
Haruskah kita terdiam dan menanti mereka semakin geram lantas menyisakan hantaman...? atau akankah kita tak lagi bergeming dari hari hari yg penuh hening dalam kubangan kering hingga Alloh memancang kita pada kesendirian ....????
JANGAN.....JANGAN biarkan penyesalan panjang dan kelam kan jadi hiasan panjang pengakhiran....
JANGAN....JANGAN biarkan kesunyian nan kelam menyelimuti kulit kulit ari dan hati kita berkepanjangna dan tak berkesudahan ........
Dan jatah helaan napas itu masih saja kita dapati di lembar lembar hari yg terus berganti...tak usah menanti halaman akhir menghampiri...MARI SEGERA MENJAMU DIRI di BENING CAHYA ILLAHI.... saatnya kita bertaubat..............ASTAGFIRULLOHHALADZIIIM.... .. lembaran itu masih tersisa saudaraku ..!!!.

Diantara kemuning sunyi mentari pagi__________ 29062010 dadan clction.

IBU......, ENGKAULAH KENANGAN TERINDAH UNTUKKU

Tiba tiba suara adzan senja menggema memecah hati – hati yang hampa dan jiwa jiwa yang terlena, suasana kian gulana hatiku kian tak kuasa, tanpa kusadari air mata itu memaksa menyeruak dari balik kedua mataku yang tak lagi kuasa saat kulihat tarikan napas terakhir dari leher perempuan penuh cinta di genggaman perpisahan yang tak kan terlupakan. Senyap hatiku sepi jiwaku seperti sepinya hari itu dibalik takbir – takbir adzan pada senja yang terasa amat merana. Lirih mulutku menguntai sebait doa INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI ROJIUN. air mataku pun tak kuasa kujegal agar tak terurai......
Kini perempuan penuh kasih sayang itu terkujur kaku, ada yang memaksa menyeruak sesak di balik heningnya dadaku nan kelu, Kucoba menatap wajahnya ! terlintas segala kebaikan dan kesabaran sepanjang hayatnya yang tak pernah sempat kubalas, ku tatap wajahnya....! terbayang betapa belum berharganya aku baginya. Ingin rasanya ku ajukan tawaran pada dinding-dinding takdir agar di beri sedikit kesempatan lagi uintuk berbakti , ingin rasanya diberi lagi kesepatan tuk bungakan hatinya walau hanya sekejap saja. namun semua telah berakhir dengan sunyi dan tak akan pernah kembali.
Masih ku ingat senyum tulus itu yang slalu jadi pelipur laraku dan penghapus gundahku.... kini, semua hanya tinggal penggalan kenangan indah diberanda takdir bersamanya...bibirnya tak akan lagi menguntai senyum lembut bagiku, untaian kata indahnya tak akan lagi menemani saat gundahnya hatiku, belaian tangannya tak akan lagi menentramkan kegelisahanku, semuanya baru saja berlalu dihadapanku, dan ia berlalu saat ku merasakan betapa berharganya ia bagiku..
Dari dinding pedih penuh perih hatiku berbisik lirih.... Ibu, Teramat mulia engkau bagiku…..! teramat indah kau untukku …namun betapa sering ku mengurai air matamu…! Betapa jarang kubahagiakan hatimu......! betapa ku sering menyia – nyiakan kilau permatamu......, Maafkanlah aku ibu…………….!
Seperti ranting –ranting yang tetap terdiam ikhlas tapa lelah menopang beban dedaunan dan kaki kaki singgah burung-burung nan riang berkicauan... hingga usia mengusang dan engkau berpulang... seperti itulah bahkan lebih dari itulah dirimu............
Seperti akar yang kuat mencngkram dan menghujam menyangga tinggi pohon-pohon besar dari terpaan badai nan menyeramkan....walau engkau tertanam tak pernah sempat tampak pada pandangan... ... seperti itulah bahkan lebih dari itulah dirimu............
Seperti mentari yang menyinari tanpa caci dan tak pernah berhenti, seperti rembulan yg terang remang menenangkan, seperti semilir angin nan tenang menenggelamkan walau tanpa balasan...seperti bintang yang bekerlipan indah jadi panduan pengembara malam... dan seperti semua pemilik kebaikan yang tak mampu lagi kulukiskan...
Dan kini baru kusadari ...bahwa memandangnya adalah kedamaian, bersamanya adalah limpahan kerlip mutiara keindahan....menyentuhnya adalah samudra berkah yang tak berkesudahan. Dan harumnya tetesan- tetesan peluhnya itu tuk setiap harapan agar ku tak lagi kesusahan adalah cinta trindah yang takkan tergantikan.....
Ibu ....kian ku mengingatmu betapa kian ku malu padamu....
Malu saat teringat masih saja ku bebani ingatan sucimu, malu saat ku masih resahkan indahnya hatimu, malu saat ku masih meneteskan bulir-bulir permata air matamu, dan malu saat ku masih tak mampu membahagiakan taman hatimu.... sementara ku masih saja bersemunyi di balik kata kata usang “Maafkan aku ibu....”
Ibu....Izinkan kini ku mengenangmu... saat ku jumpai engkau tlah terbujur kaku terdiam dan membisu...
maafkanlah aku... maafkanlah atas semua tetesan air matamu dariku... Maafkanlah atas tak berbaktinya akau pada hari – harimu... Maafkan lah aku dari lalainya tuk pahami hatimu bahwa engkau sangat menyayangiku..
Janjiku..... diantara sujud-sujud malamku kan slalau ku haturkan do’a cintaku hanya untukmu...
Hanya satu harapanku... kita kan diperjumpakan kelak ditaman jannah indah penuh mahabbah disana...
tunggulah aku ibu...
Ibu ...Sungguh aku mencintaimu....

(Saudaraku.......... Mulyakanlah Ibumu... sebelum kau menjumpainya terbujur kaku ...:-( )
Bumi Alloh....8 Juli 2010 .... diantara kilauan mutiara terpendam